Kita Lihat Saja Nanti


Bukankah Dia lebih pekat dari gelapnya malam
Bagaimana bisa mencari, 
bagaimana aku bisa mengerti
Sementara cahaya yang mencoba menyinari, ikut tersesat, hilang terserap.

Bukankah Dia samudera yang tak mampu diterka kehendaknya.
Begitu tenang, biru redup, dan seketika murka, tenggelamkan semua yang ada.
Lantas, aku menjelma pasir pantai, yang siap menerima deburan luka, siap menerima hempasan tangis maupun tawa
Aku bisa menjelma burung-burung laut, yang sewaktu-waktu terbang meninggalkan, kapanpun aku suka.

Dia banyak bercerita tentang gunung-gunung tertinggi
Lalu aku mulai meniti mendaki.
Dia banyak bercerita tentang keagungan semesta
Lalu aku mulai mencari, dan memahami
Dia banyak bercerita tentang kumbang-kumbang lancang.
Lalu aku tanggalkan sayap, dan berjalan merayap.

Tapi sekarang, dia bacakan sajak-sajak tentang Diam
Melantunkan nada-nada tanpa suara
Apakah itu mengartikan luka, apakah itu mengartikan tawa bahagia
Tetap saja tak bisa kuterka.

Diam, aku selalu bisa menikmatinya.
Apakah ia akan membawaku ku pergi?
Apakah ia akan membuatku berlari menghampiri.?

Comments

  1. Bagaimana jika nanti itu tdk pernh ada?...apa yang bisa kita lihat?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

10 Cara Efektif Mencegah Tawuran antar Pelajar

Kisah Mengharukan Sayyidina Umar bin Khattab ra.

Zikir dan Doa Pada Hari Jumat dan Malamnya