Hukuman Mati Terhadap Presiden Sah Di Mesir


Pada tanggal 16 Mei 2015, sebuah pengadilan di Mesir menghukum mati Mursi bersama dengan 105 pendukung Ikhwanul Muslimin untuk tuduhan dakwaan pembobolan penjara massal pada tahun 2011 selama revolusi di negara itu terhadap diktator lama Hosni Mubarak.

Jauh berbeda dengan Mursi yang dihukum mati, Mubarak, mantan diktator yang telah berkuasa selama beberapa dekade itu, yang tangannya juga berlumuran darah para demonstran yang menentangnya dibebaskan dari tuduhan tersebut, pun termasuk dalam kasus korupsi hanya diberikan vonis selama 3 tahun penjara.

Salam alaikum Sobat Ruang, Pada kesempatan yang baik ini saya ingin menyambung beberapa tulisan terdahulu tentang perkembangan yang ada di Mesir setelah kudeta yang dilakukan oleh pihak militer terhadap Presiden Sah Mesir Muhammad Mursi yang telah terpilih secara Demokratis.

Ikhwanul Muslimin Sangat Berbahaya Bagi Kelompok hawa nafsu,
Saya Yakin Inilah Makna Islam Yang Kembali Terasing Itu,
Puisi Belthagy Atas Kematian Putrinya

Pemerintah Kudeta Abdul Fatah As-Sisi telah menjatuhi hukuman mati kepada para pembesar-pembesar Ikhwanul Muslimin di Mesir maupun yang ada di seluruh Dunia, dengan tuduhan yang mengada-ada dan tidak masuk akal. Baru-baru ini berita yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan datang dari pengadilan Mesir, tentang Vonis Hukukman Mati Kepada Presiden sah Mesir Mohammad Mursi.
Kenapa kami bilang tidak terlalu mengejutkan, karna apa yang terjadi saat ini memang sudah bisa kami prediksi jauh sebelumnya, Bahwa keadilan dan kebenaran yang ada di mesir tidak akan bernafas lama, mereka akan ditumpas bahkan dimusnahkan. Hanya Allah yang bisa memberikan balasan setimpal terhadap ketidakadilan dan penindasan ini.

Negara-negara yang selalu lantang meneriakkan tentang hak asasi dan ketidakadilan ketika dihadapkan tentang permasalahan yang ada di Mesir tak lebih hanya seperti penonton yang menikmati sebuah pertunjukan, termasuk negara kita, dan negara-negara Muslim lainnya.

Baru Negara Turki dan Pakistan yang sudah terang-terangan melakukan kecaman terhadap Vonis mati kepada Presiden mursi tersebut.

Berikut beberapa pernyataan Presiden Erdogan (Turki)
“Walaupun Barat menghapuskan hukuman mati, mereka cuma melihat sebagai penonton terhadap hukuman mati di Mesir ini,” sindir Erdogan dalam pernyatannya. Lebih jauh pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu juga mengkritik Barat atas sikap mereka pada kudeta militer yang dipimpin Jenderal Abdel Fatah As Sisi. Ia menuding Barat hanya diam dan menutup mata terhadap kudeta di Mesir.

Pada awal April lalu Erdogan memperingatkan Mesir, jika negara itu ingin hubungan dengan Turki membaik, As Sisi harus membebaskan Mursi dari penjara dan membatalkan hukuman mati bagi aktifis Ikhwanul Muslimin. Bukannya dipenuhi, Mesir justru menjatuhkan vonis mati kepada Mursi atas tuduhan melarikan diri dari penjara dengan bantuan militan dalam dan luar negeri pada Revolusi 25 Januari. [Ibnu K/bersamadakwah]

Islamabad, Pakistan
Juru bicara Kantor Luar Negeri Pakistan Qazi Khalilullah mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (28/5/2015) bahwa kecaman atas hukuman mati terhadap presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis itu sesuai dengan prinsip-prinsip internasional.

"Pernyataan kami pada hukuman mati yang diberikan kepada mantan Presiden Mesir didasarkan atas prinsip-prinsip yang diakui secara internasional," kata pernyataan itu.

Pernyataan itu muncul dua hari setelah Kementerian Luar Negeri Mesir memanggil kuasa usaha Pakistan di ibukota, Kairo, pada hari Selasa dan menyebut pernyataan Islamabad sebagai campur tangan dalam urusan internal negara Afrika Utara tersebut. (VOA-ISLAM.com)

Indonesia? yang katanya negara islam terbesar.
Baru PKS yang lantang meneriakkan kecaman terhadap vonis hukuman mati ini.

“Sangat menyedihkan dunia harus melihat kenyataan demokrasi dan kebebasan dipasung di Negara Mesir. Presiden pertama yang terpilih secara demokratis lalu digulingkan dan kini menghadapi vonis mati bersama ratusan pendukungnya,”

“Vonis mati terhadap Mursi dan pendukungnya harus dimaknai sebagai tragedi demokrasi paling memilukan sepanjang abad modern ini. Hal ini sekaligus menohok rasa kemanusiaan dan hak asasi manusia yang dikampanyekan oleh negara-negara modern,”
(pks.or.id, Jazuli di Jakarta)

Semoga bukan karna warna kulit, bukan karna bahasa, bukan karena bendera, bukan karna suku bangsa, lantas kita berbeda dalam memaknai keadilan dan kebenaran.
Terimakasih.



Comments

Popular posts from this blog

10 Cara Efektif Mencegah Tawuran antar Pelajar

Kisah Mengharukan Sayyidina Umar bin Khattab ra.

Keutamaan Pemuda Dalam Islam